Kereta Nenek Moyang

Sudah seminggu lebih kira-kira Adikku magang di kampus, menjadi fasilitator antara mahasiswa dengan dekanat. Kegiatannya sibuk dan padat, sehingga mengharuskan ia bangun pagi-pagi sekali sehingga bisa sampai kampus tepat pada waktunya. Sering saya harus mengantarnya sampai ke stasiun Tebet agar ia tidak tertinggal kereta jam 6. Kalau bisa sih dapet KRL ekonomi karena harga tiket yang terjangkau sehingga bisa menghemat uang dan menabung. Maklumlah kan masih mahasiswa. Kalau kebetulan saya ke depok (biasanya hari sabtu), saya mengantar adik saya sampai stasiun UI, bukan cuma sampai Tebet.

Nah hari ini kebetulan saya ada urusan di Depok, jadi saya antarlah adik saya dari klender hingga depok. Di tengah perjalanan itu, secara tidak sengaja kami berbincang mengenai teknologi kereta saat ini. Ia bercerita bahwa pernah ada seorang mahasiswa Jepang kuliah di UI, di sastra Jepang lebih tepatnya. Suatu ketika ia diajak teman adikku ke rumahnya. Mereka naik KRL ekonomi AC. Begitu terkejutnya mahasiswa Jepang tersebut begitu naik Kereta itu. Ia berkata dalam bahasa Jepang yang kira-kira artinya begini, “Hahh??? Ini kan kereta yang pernah kulihat di foto kakekku waktu kakekku masih muda!!!!”. Entah sengaja atau tidak sengaja ia berkata demikian, namun tetap saja membuat teman adikku merasa malu. Ia langsung menulis di Facebook, dan banyak yang menanggapinya, ada yang kesal, ada yang realistis, dan sebagainya.

Bagiku, ini merupakan kejadian yang cukup memalukan, walaupun harus kuakui bahwa perkataannya itu benar. Indonesia sebenarnya sudah bisa membuat kereta sendiri, tapi kenapa kita masih “impor” dari jepang? Sebenarnya disebut impor juga kurang tepat, sebab kita tidak membeli, tapi diberi secara cuma-cuma, kita “hanya” menanggung biaya transportnya saja. Nah kembali ke masalah kenapa masih impor mungkin beberapa hal ini bisa menjadi pertimbangan,

  1. Cost. Biaya untuk mengembangkan sendiri, baik dari sisi waktu dan duit, pasti jauh lebih tinggi.
  2. Kehandalan. Kereta kita kadang suka mogok sendiri, dan sparepartnya susah. dibanding dengan Jepang yang sparepartnya mudah dan terbukti handal karena sudah dipakai bertahun-tahun jadi jarang ada yang rusak.

Mungkin dalam jangka pendek impor ini bisa jadi solusi, namun dalam jangka panjang ini sangat merugikan. Kita kehilangan banyak hal, antara lain,

  1. Kita akan jadi bangsa pengimpor. Kita tidak akan bisa mengembangkan sendiri dan kreativitas mati.
  2. Kita tidak akan bisa ekspor kereta. Baik kereta utuh, maupun sparepartnya saja.
  3. Teknologi kita akan terus tertinggal.

Bagi orang Jepang tersebut, mungkin kereta tersebut merupakan “kereta impian”, karena bisa merasakan kereta yang dinaiki oleh kakeknya dulu. Entah bagi dia itu baik atau buruk, dia sendiri yang tau. Tapi dari sini saya juga bisa menyimpulkan bahwa dari sisi teknologi, kita sudah tertinggal 2 generasi dari Jepang (2 generasi loh, bukan 2 tahun atau 2 dasawarsa). Sampai kapan kita akan terus tertinggal? Hanya kita yang tau.

Sebagai tambahan, kita tidak bisa hanya menyalahkan PT KAI. Karena mereka sudah berusaha untuk menyiapkan transportasi seterjangkau mungkin, walaupun bagi kita itu termasuk mahal. Dalam kesempatan itu pula adik saya mengeluh mengenai KRL ekonomi. Adikku khawatir sekali KRL ekonomi akan dihapus, yang menyebabkan ia harus menyisihkan uang lebih banyak agar bisa naik Commuter Line yang harganya 4 kali lipat dari KRL ekonomi. Kata adikku harga tiket Commuter Line Jakarta-Depok adalah 6000, sedangkan KRL ekonomi biasa hanya 1500. Beda jauh bukan?

Ya benar kata adikku, sebagai seorang mahasiswa yang belum berpenghasilan cukup tentu keberadaan KRL Ekonomi sangat membantu. Namun jangan dilupakan bahwa operasional kereta termasuk tinggi. Jika kita naik angkutan umum jalan seperti bus maupun mikrolet, pasti biaya yang kita keluarkan sama atau lebih dari naik Commuter Line Jakarta-Depok. Jadi sebenarnya untuk jarak jauh, Commuter Line sangat membantu dengan biaya yang optimal. Saya tidak bilang terjangkau karena tiap orang berbeda-beda. Namun dari sisi optimalisasi biaya, secara objektif saya katakan ya. Bayangkan dari kantor ke rumah di depok jika menggunakan angkutan jalan raya. Berapa tenaga, biaya, dan waktu habis dibanding naik Commuter Line.

Nah, kalau naik KRL ekonomi, Jakarta-Depok hanya 1500, tentu sangat besar jurang pemisahnya dengan angkutan jalan raya. Harga itu bukan harga balik modal, apalagi untung. Harga itu adalah harga subsidi. Subsidi dari keuntungan Commuter Line walaupun sedikit, kereta eksekutif jarak jauh, dan dari pemerintah. Yang terakhir ini bisa dipastikan selalu bermasalah, sebab pemerintah sendiri juga tidak mampu menutupi seluruh biaya kereta ekonomi dan sering kali (atau selalu) subsidi datang belakangan dan sangat terlambat. Ibarat orang kerja keras sampe meninggal karena kelaparan, baru gaji turun. Jadi orang kalau Anda orang berkecukupan (ingat! berkecukupan, bukan kaya, sebab berkecukupan bukan berarti kaya!!), naiklah kereta yang sesuai, agar bisa menyubsidi orang yang tidak mampu.

Kembali ke masalah ketertinggalan teknologi, intinya bagaimana kereta bisa mengembangkan diri dengan baik dan berinovasi jika hidup sehari-harinya saja (biaya operasional) masih kekurangan. Kita harus refleksi diri juga, bagaimana cara membantu PT KAI berkembang. Caranya? ya belilah tiket dengan jujur. Berikan kritik dan saran agar terus membangun dan berinovasi. Jangan suka numpang gratis, apalagi sampai naik ke atap gerbong. Perlu diketahui dan diingat bahwa tiap gerbong ada batas toleransi beban yang bisa diangkut. Jika melebihi batas tersebut sudah bisa dipastikan gerbong cepat rusak, pegas kereta tidak berjalan, dan sebagainya. Sudah tidak bayar, bikin rusak pula. Inilah yang harus direfleksi lagi. Dari sisi PT. KAI harus introspeksi, dari sisi kita pun harus sadar diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s