Serba-Serbi Kewajiban Jurnal Ilmiah

Surat Edaran Dikti mengenai kewajiban jurnal ilmiah

Surat Edaran Dikti mengenai kewajiban jurnal ilmiah

Hhh… Ada-ada saja dikti ini. Kali ini masalah jurnal ilmiah. Sudah pendidikan mahal, harus ada kewajiban pula untuk membuat paper. Yah, sebenarnya sih bagus idenya. saya setuju dan mendukung sekali. Supaya belajarnya tidak main-main. Namun yang sangat tidak kusetujui adalah alasan kewajiban ini. Alasan yang diberikan Dikti adalah karena Jumlah Karya Ilmiahnya Lebih Rendah dari Malaysia. Hanya sekitar sepertujuh. Sederhana sekali. Simpel dan kelihatan terbelakang!! Hanya sebatas Malaysia kah pandangan dikti ini? Benar-benar memalukan. Padahal kita punya segudang resource yang jauh lebih tinggi dari Malaysia. Salah satunya adalah tokoh yang saya tulis sebelum artikel ini. Pertanyaannya, terbang kemanakah ilmuwan-ilmuwan berkewarganegaraan Indonesia ini? (paling tidak pernah menyandang gelar warga negara Indonesia atau kelahiran Indonesia atau keturunan Indonesia).

Silakan download Surat Edarannya dalam bentuk pdf di sini

Oke, baiklah kalau begitu, mari kita bicara sesuai tingkat pemikiran dikti yang dangkal, yaitu mengenai Malaysia. Perlu diingat, di Malaysia SD-SMP-SMU itu gratis, bahkan pemerintah menghukum orang tua yang gagal menyekolahkan anaknya hingga tamat SMU. Biaya pendidikan perguruan tinggi juga lebih rendah dan banyak beasiswanya. Sarana dan prasarana pendidikan mereka pun jauh lebih lengkap. Jurnal langganan mereka sangat banyak, peralatan lab mereka lengkap, anggaran pendidikan jauh lebih besar, dan sebagainya. Dikti juga harus ingat itu! Kalau di negeri tercinta ini kan anggaran pendidikan ditilep ma pejabat. Perlu diketahui, langganan jurnal itu mahal!! Wong download satu paper aja diberi biaya 10-25 dolar (ada tulisan biayanya di paper tersebut), apalagi langganan. Pasti biayanya berratus-ratus dolar tiap bulan. Begitu pula dengan peralatan lab. Tidak perlu dipertanyakan lagi mahalnya biaya lab, seperti mesin bubut, mesin CNC, CT-Scanner, dsb.

Kalaupun benar Malaysia lebih banyak mengeluarkan publikasi, saya yakin yang membuat publikasi tersebut pasti orang-orang Indonesia juga. Baik dosennya maupun mahasiswanya banyak dari Indonesia. Gaji Dosen di sana jauh lebih tinggi, tidak seperti di sini dimana ada anekdot dosen “Kerjaan Sedoes Gaji Sesen“, kemudian mahasiswa dibebani biaya kuliah yang tidak sedikit. Dapat informasi dari blog salah satu dosen ITB, kuliah di ITB harus membayar 55 juta rupiah (silakan baca ini). Efeknya apa? tentu saja Dosen pada terbang ke tetangga, trus siswa berpotensi lebih memilih untuk mencari kerja. Kalaupun mereka kuliah tidak sedikit yang menyambi kerja, akhirnya kuliahnya setengah-setengah atau bahkan terbengkalai. Saya pernah mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Setiap kali saya beri tugas, pasti ada yang tidak mengerjakan atau menunda mengerjakannya. Alasannya sibuk lah, kerjaan banyak lah, keluar kota lah. Malah kadang sekelas tidak ada yang mengerjakan sama sekali! Padahal saya yakin mereka mampu mengerjakannya. Sangat mampu malah.

Yang paling saya khawatirkan adalah para mahasiswa kita akan membayar orang agar mengerjakan publikasinya itu. Dan tentu saja orang yang mengerjakan tidak dicantumkan namanya karena sudah diganti bayaran yang cukup oleh si pemberi order. Ini adalah jenis plagiarisme tingkat tingkat tinggi dan masuk dalam kategori mafia pendidikan. Tidak tersentuh hukum karena ini adalah murni bisnis (malah mungkin bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan si intelek yang melihat ini adalah peluang bisnis). Yang ada hanyalah etika. Ini sangat melanggar etika pendidikan.

Kalau Dikti mau memaksa Perguruan tinggi, baik dosen dan mahasiswa, untuk membuat publikasi ilmiah, ya mereka juga harus memaksa diri mereka sendiri untuk merombak Sistem Manajemen mereka supaya lebih efektif dan efisien. Dan tentunya bebas korupsi!!

Namun bagaimanapun juga saya sangat setuju dengan usul dikti tersebut. Kita perlu maju. Kita adalah bangsa yang besar, dan bangsa kita harus diakui kehebatannya di dunia internasional. Tapi tentu bukan kehebatan dalam hal korupsi bukan?😀

kampus UI
Kampus UI
kampus UKM
Kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia)

Sumber :
http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/05/23/batal-masuk-itb-karena-55-juta/
http://pmblab.wordpress.com/2012/02/02/breaking-news-anda-mahasiswa-perguruan-tinggi-s1-s2-atau-s3-atau-dosen-pembimbing-mahasiswa-baca-info-ini-mungkin-saja-menyangkut-nasib-anda-ke-depan/
http://faperta.unsoed.ac.id/berita/malaysia-tawarkan-perguruan-tinggi-murah
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/195908141985031-JOHAR_PERMANA/Pendas_Gratis_OK-_PR.pdf
http://fery-coretan.blogspot.com/2010/07/kualitas-pendidikan-di-malaysia.html

4 thoughts on “Serba-Serbi Kewajiban Jurnal Ilmiah

  1. Very enlightening…! I am 100% agree with your statement about this *new dikti policy* It seems like “oleh wangsit ndek mbengi, gawe aturan dina iki” (dalam bahasa jawa) or just got the idea last night and make the important decision about it today. However, thinking positively – I hope the decision will be carried out wisely and will not caused any harm to the students. Thanks for the PING…

    • Thank You very much. I actually agree with this kind of policy. Sometimes Dikti must force academic society to publish some scientific articles as this is one of our obligation to brighten our community. However I feel this is not the way they should do such things. Moreover the reason is not logical at all. There are many ways they can do this, like giving incentive who wants to post his/her article in international journal, giving information about international conference held in many universities and countries, bear all costs (transport and accomodation) for someone who participate in International Conferences as speaker, etc. Not only forcing, they should help us and support us to develop ourselves and our community.
      I heard that sending a paper to IEEE transaction is not a cheap matter, particularly for us, Indonesian people. It costs about US $600, and there is an additional cost US $100 for each page containing colored figure.

  2. Belajar dari status fb nya Romi Satria Wahono tanggal 13 Februari 2012:

    “dengan segala kerendahan hati, meskipun saya bukan dosen di ui, itb, ugm, its dan univ besar lainnya … dengan ini saya menyatakan bahwa sangat setuju dengan peraturan baru dikti yg mewajibkan mahasiswa menulis paper journal ilmiah … mahasiswa bimbingan saya, meskipun mereka mahasiswa “univ gurem”, tanpa perlu peraturan dikti pun, memang sudah saya didik utk bisa menulis paper journal … terima kasih”.

    Salut sama beliau, disaat orang-orang sibuk meributkan aturan DIKTI, beliau malah sudah selangkah lebih maju.

    • Saya juga selalu memberi tugas untuk membuat tulisan, laporan, ataupun paper. Tapi saya tidak setuju dikti mengarahkan untuk menunjukkan kelemahan kita dibanding malaysia sedangkan mereka tidak bercermin kepada diri sendiri. Itu adalah pemikiran orang-orang “loser”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s