Hakim Belanda

Ada kisah menarik, dikutip dari Novel bersejarah, Max Havelaar, karangan Douwes Dekker, bernama pena Multatuli. Kisah ini berisi percakapan antara Polisi Belanda,
Hakim Belanda, serta wanita dan pemuda bumiputera. Adapun nama-namanya adalah fiktif (disamarkan). Latar kisah adalah sidang peradilan zaman penjajahan Belanda.

POLISI Tuan Hakim, itulah Orang yang telah membunuh Barbertje (sambil menunjuk Lothario).
HAKIM Ia harus digantung. Bagaimana ia melakukan itu?
POLISI Dicincang-cincangnya lalu digaraminya.
HAKIM Itu kesalahan besar … Ia harus digantung.
LOTHARIO Tuan Hakim, saya tidak membunuh Barbertje; saya memberinya makan, pakaian, dan saya urus dia baik-baik … Saya punya saksi-saksi yang menerangkan bahwa saya orang baik dan bukan pembunuh …
HAKIM Kau harus digantung … Dosamu tambah besar karena kesombonganmu. Tidak pantas orang yang dituduh bersalah, menganggap dirinya orang baik.
LOTHARIO Tuan Hakim, ada saksi-saksi yang bisa membuktikan itu; dan karena saya dituduh membunuh …
HAKIM Kau harus digantung, kau mencincang-cincang Barbertje, menggaraminya dan kau puas dengan dirimu sendiri … Tiga kesalahan besar. Siapa kau, hai, perempuan?
PEREMPUAN Saya Barbertje.
LOTHARIO Syukur Alhamdulillah… Tuan hakim, tuan hakim lihat, saya tidak membunuhnya!
HAKIM Hmm … ya … begitu …, tapi bagaimana tentang penggaraman? …
BARBERTJE Tidak, Tuan Hakim, dia tidak menggarami saya; – Sebaliknya, dia banyak berjasa kepada saya … dia seorang manusia yang mulia.
LOTHARIO Tuan dengar, tuan hakim, katanya saya seorang yang baik …
HAKIM Hmm …, jadi kesalahan ketiga masih tetap ada. Polisi, bawa orang itu; dia harus digantung. Dia bersalah karena congkak.

Lucu ya kisahnya!😀
Melambangkan peradilan zaman itu dimana orang pribumi tidak memiliki hak berbicara atau menyewa pengacara sebagaimana zaman sekarang.

Resource :
Max Havelaar, Multatuli
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H.B. Jassin

Ana Khoirun Minhu

Pelajaran dari Republika 22 Maret 2012 : Ana khoirun minhu (Saya lebih baik dari dia)
Tahukah Anda, kata-kata siapakah itu? ya benar, itu adalah kata-kata yang diucapkan iblis ketika diperintahkan untuk bersujud pada Adam. Gara-gara itulah iblis dilaknat oleh Allah dan tempatnya sudah di-“tag” di neraka jauh sebelum hari kiamat tiba.
Perlu dingat! iblis ditempatkan di neraka hanya karena sepatah kata yang mungkin bagi kita remeh. Bukankah kita sering berkata “Lihat gue donk, elu mah payah”, atau “yang bisa melakukan ini gue, dia ga (bakal) bisa”. Hanya seucap kata yang melambangkan kehebatan diri dan merendahkan yang lain. Akankah kita seperti itu? pernahkah kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain? Jika ya, maka segera lenyapkan perasaan tersebut, namun tetap berusaha menjadi yang terbaik.

Jangan sampai kata-kata tersebut menyebabkan Anda “satu rumah” dengan iblis. Atau Anda lebih rela ditempatkan di neraka bersama iblis? hanya Anda yang tahu jawabannya..

referensi :
Republika 22 Maret 2012

Rasulullah dan Sebatang Pelepah Kurma

Jumat ini sekali lagi saya mendapat kisah menarik. Saya jadi tidak tidur. Memang sudah takdir saya tidur di setiap Jumat, kecuali jika penceramahnya memberikan kisah tauladan sebagai contoh, baik atau buruk, agar menjadi pelajaran bagi kita. Kisah Jumat kali ini mengenai Rasulullah dan pelepah kurma.
http://goresanpena12.files.wordpress.com/2012/01/kurmalink2newwpcom1.jpg
Apa hubungannya Rasulullah dan kisah pelepah kurma? Banyak. Contohnya ketika Rasulullah melewati makam, beliau meletakkan pelepah kurma di atas makam 2 orang lelaki. Ketika ditanya untuk apa, Rasulullah menjawab agar siksaannya dikurangi selama pelepah tersebut masih basah.
http://elrasa.files.wordpress.com/2011/08/pohon-kurma.jpg
Nah pelepah kurma kisah kali ini berhubungan dengan Sholat Jumat. Ceritanya begini. Setiap Sholat Jumat, Rasulullah berkhutbah menggunakan pelepah kurma sebagai tempat sandaran. Suatu ketika, umat muslim semakin bertambah dan jamaah semakin banyak, Rasulullah semakin tidak kelihatan oleh Jamaah, terutama jamaah yang posisinya di bagian belakang. Oleh karena itu para sahabat berinisiatif membuatkan sebuah mimbar bagi Rasulullah agar beliau dapat terlihat oleh semua jamaah yang hadir (Padahal kalo di sini, aq ga begitu peduli siapa yang ceramah, gak kelihatan gapapa asal suaranya terdengar dan isinya menarik sudah lebih dari cukup, tapi ini jaman Rasulullah maaann..).

Pada hari Jumat berikutnya, Rasulullah naik ke mimbar tersebut untuk berkhotbah. Di tengah khotbah tiba-tiba terdengar suara tangisan yang amat nyaring. Suara tersebut terdengar sangat memilukan seperti suara anak kecil yang kehilangan ibunya. Suara tersebut sangat keras hingga khotbah Rasulullah tidak terdengar oleh para sahabat. Sahabat-sahabat pun mulai menoleh, melongok, celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Ternyata suara tersebut adalah suara dari pelepah kurma yang biasa Rasulullah gunakan untuk khutbah Jumat. Rasulullah pun turun dari mimbar menuju pelepah kurma tersebut. Dibelai-belainya pelepah kurma tersebut seperti Ibu menenangkan anaknya yang menangis. Rupanya pelepah kurma tersebut sedih, ia tidak kuat ditinggal Rasulullah khutbah Jumat di tempat lain. Padahal jarak antara pelepah kurma dengan mimbar Rasulullah yang baru hanya 8 langkah. Namun karena kecintaan pelepah kurma ia tidak ingin ditinggalkan Rasulullah. Rasulullah pun menawarkan pilihan, apakah ia mau Rasulullah tetap menggunakan pelepah kurma tersebut untuk berkhotbah dan Allah akan mengabadikan pelepah kurma hingga hari kiamat, ataukah ia ingin bersama Rasulullah kelak di surga nanti. Pelepah kurma itupun memilih untuk bersama Rasulullah di surga.

Perhatikan bahwa Rasulullah adalah Rahmatan lil ‘Alamin. Bukan hanya manusia, bahkan pelepah kurma pun yang tidak berakal merindukan dan mencintai Rasulullah. Masakah kita yang berakal dan bernyawa sama sekali tidak merindukannya?

~Mengenang Rasulullah – Maulid Nabi 12 Rabiulawal~
https://priadhana.files.wordpress.com/2012/02/pohon_kurma_sunset.jpg?w=225
http://elrasa.files.wordpress.com/2011/08/pohon-kurma2.jpeg

Sumber :
Khutbah Jumat di Mesjid At Taqwa Utan Kayu, 3 Februari 2012
http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/cinta-itu-satu-perkenalan.html
http://ahlulkisa.com/cinta-itu-satu-perkenalan.html?comments=true

Serba-Serbi Kewajiban Jurnal Ilmiah

Surat Edaran Dikti mengenai kewajiban jurnal ilmiah

Surat Edaran Dikti mengenai kewajiban jurnal ilmiah

Hhh… Ada-ada saja dikti ini. Kali ini masalah jurnal ilmiah. Sudah pendidikan mahal, harus ada kewajiban pula untuk membuat paper. Yah, sebenarnya sih bagus idenya. saya setuju dan mendukung sekali. Supaya belajarnya tidak main-main. Namun yang sangat tidak kusetujui adalah alasan kewajiban ini. Alasan yang diberikan Dikti adalah karena Jumlah Karya Ilmiahnya Lebih Rendah dari Malaysia. Hanya sekitar sepertujuh. Sederhana sekali. Simpel dan kelihatan terbelakang!! Hanya sebatas Malaysia kah pandangan dikti ini? Benar-benar memalukan. Padahal kita punya segudang resource yang jauh lebih tinggi dari Malaysia. Salah satunya adalah tokoh yang saya tulis sebelum artikel ini. Pertanyaannya, terbang kemanakah ilmuwan-ilmuwan berkewarganegaraan Indonesia ini? (paling tidak pernah menyandang gelar warga negara Indonesia atau kelahiran Indonesia atau keturunan Indonesia).

Silakan download Surat Edarannya dalam bentuk pdf di sini

Oke, baiklah kalau begitu, mari kita bicara sesuai tingkat pemikiran dikti yang dangkal, yaitu mengenai Malaysia. Perlu diingat, di Malaysia SD-SMP-SMU itu gratis, bahkan pemerintah menghukum orang tua yang gagal menyekolahkan anaknya hingga tamat SMU. Biaya pendidikan perguruan tinggi juga lebih rendah dan banyak beasiswanya. Sarana dan prasarana pendidikan mereka pun jauh lebih lengkap. Jurnal langganan mereka sangat banyak, peralatan lab mereka lengkap, anggaran pendidikan jauh lebih besar, dan sebagainya. Dikti juga harus ingat itu! Kalau di negeri tercinta ini kan anggaran pendidikan ditilep ma pejabat. Perlu diketahui, langganan jurnal itu mahal!! Wong download satu paper aja diberi biaya 10-25 dolar (ada tulisan biayanya di paper tersebut), apalagi langganan. Pasti biayanya berratus-ratus dolar tiap bulan. Begitu pula dengan peralatan lab. Tidak perlu dipertanyakan lagi mahalnya biaya lab, seperti mesin bubut, mesin CNC, CT-Scanner, dsb.

Kalaupun benar Malaysia lebih banyak mengeluarkan publikasi, saya yakin yang membuat publikasi tersebut pasti orang-orang Indonesia juga. Baik dosennya maupun mahasiswanya banyak dari Indonesia. Gaji Dosen di sana jauh lebih tinggi, tidak seperti di sini dimana ada anekdot dosen “Kerjaan Sedoes Gaji Sesen“, kemudian mahasiswa dibebani biaya kuliah yang tidak sedikit. Dapat informasi dari blog salah satu dosen ITB, kuliah di ITB harus membayar 55 juta rupiah (silakan baca ini). Efeknya apa? tentu saja Dosen pada terbang ke tetangga, trus siswa berpotensi lebih memilih untuk mencari kerja. Kalaupun mereka kuliah tidak sedikit yang menyambi kerja, akhirnya kuliahnya setengah-setengah atau bahkan terbengkalai. Saya pernah mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Setiap kali saya beri tugas, pasti ada yang tidak mengerjakan atau menunda mengerjakannya. Alasannya sibuk lah, kerjaan banyak lah, keluar kota lah. Malah kadang sekelas tidak ada yang mengerjakan sama sekali! Padahal saya yakin mereka mampu mengerjakannya. Sangat mampu malah.

Yang paling saya khawatirkan adalah para mahasiswa kita akan membayar orang agar mengerjakan publikasinya itu. Dan tentu saja orang yang mengerjakan tidak dicantumkan namanya karena sudah diganti bayaran yang cukup oleh si pemberi order. Ini adalah jenis plagiarisme tingkat tingkat tinggi dan masuk dalam kategori mafia pendidikan. Tidak tersentuh hukum karena ini adalah murni bisnis (malah mungkin bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan si intelek yang melihat ini adalah peluang bisnis). Yang ada hanyalah etika. Ini sangat melanggar etika pendidikan.

Kalau Dikti mau memaksa Perguruan tinggi, baik dosen dan mahasiswa, untuk membuat publikasi ilmiah, ya mereka juga harus memaksa diri mereka sendiri untuk merombak Sistem Manajemen mereka supaya lebih efektif dan efisien. Dan tentunya bebas korupsi!!

Namun bagaimanapun juga saya sangat setuju dengan usul dikti tersebut. Kita perlu maju. Kita adalah bangsa yang besar, dan bangsa kita harus diakui kehebatannya di dunia internasional. Tapi tentu bukan kehebatan dalam hal korupsi bukan?😀

kampus UI
Kampus UI
kampus UKM
Kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia)

Sumber :
http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/05/23/batal-masuk-itb-karena-55-juta/
http://pmblab.wordpress.com/2012/02/02/breaking-news-anda-mahasiswa-perguruan-tinggi-s1-s2-atau-s3-atau-dosen-pembimbing-mahasiswa-baca-info-ini-mungkin-saja-menyangkut-nasib-anda-ke-depan/
http://faperta.unsoed.ac.id/berita/malaysia-tawarkan-perguruan-tinggi-murah
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/195908141985031-JOHAR_PERMANA/Pendas_Gratis_OK-_PR.pdf
http://fery-coretan.blogspot.com/2010/07/kualitas-pendidikan-di-malaysia.html

Warsito, Sang Pembunuh Sel Kanker

Warsito dan ECTV
Warsito dan ECTV

Mungkin jarang ada yang mengenal nama Warsito P. Taruno, atau sering disapa Warsito. Saya sendiri pun belum mengenalnya hingga saya membaca Jawa Pos tanggal 30 Desember 2011. Entah kenapa hati saya tergerak untuk membaca koran berumur hampir sebulan yang saya temukan di tempat client itu. Mungkin untuk mengenyahkan kebosanan saya menunggu data yang saya copy dari jaringan di tempat client. Di lihat dari sisi berita, jelas ini adalah koran basi. Tapi saya lebih suka membaca koran basi daripada melamun menunggu data yang saya copy itu.

Tak sengaja saya membaca judul “Pesanan Membludak, Kerja hingga Malam” di halaman sebelas koran tersebut. Kukira artikel utama, ternyata ini adalah artikel sambungan dari halaman pertama. Sebagaimana biasa, saya dalam hati menebak isi berita itu, pasti tidak jauh dari orang lembur, dapet untung besar, dan omzet naik. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Topik utama artikel itu bukan tentang lembur atau memenuhi target produksi, tapi tentang keberhasilan penemuan yang dibuat Warsito!!

Warsito adalah Dosen di Universitas Indonesia Fakultas MIPA jurusan Fisika Medis. Pekerjaan yang telah ditekuninya semenjak tahun 2005. Sebelum ke UI, ia sudah malang melintang di Jepang dan Amerika, lebih tepatnya di Shizuoka University dan Ohio State University. Selain Dosen, ia juga pendiri CTech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edward Technology yang bergerak di bidang penemuan teknologi. Usaha ini berlokasi di ruko kawasan perumahan Modernland, Tangerang. Saya jadi teringat dengan General Electric-nya Thomas Alfa Edison di Menlo Park. Keduanya sama-sama perusahaan berbasis riset. Perbedaannya CTech Labs tidak bertujuan mengeruk keuntungan banyak (paling tidak untuk saat ini), dan lebih diarahkan untuk menolong orang, sedangkan General Electric berusaha mengeruk keuntungan besar melalui paten-paten yang dilakukannya untuk setiap penemuan yang baru muncul.

Karir riset Warsito mulai sejak menjadi mahasiswa S1 di Teknik Kimia Universitas Shizuoka. Saat itu ia berhasil membuat ECVT (Electro Capacitive Volume Tomography) yang merupakan tugas akhir S1-nya tahun 1991 di Universitas tersebut. Temuan ini membuat namanya mendunia. Bahkan NASA pun tertarik untuk menggunakan teknologi pemindai ECVT. Alat ini memanfaatkan kotak akuisisi data, sensor kapasitansi 3D, dan software rekonstruksi. Dari sensor kapasitansi, benda-benda yang tertutup oleh material tertentu dideteksi dan disimpan dalam kotak akuisisi data untuk selanjutnya dimodelkan menggunakan software rekonstruksi yang terdapat di komputer atau laptop. Melalui software rekonstruksi, komputer ini akan menampilkan model 3D dari data yang telah didapat tersebut. NASA menggunakan alat ini untuk melihat tembus timbunan material di dinding luar Space shuttle. “Kalau ada timbunan air di luar bagian pesawat, dindingnya bisa terbakar,” imbuh dia.

ECTV

Karya mendunia lain ia ciptakan tahun 2001, ketika ia menjadi dosen dan researcher di Ohio State University. Saat itu ia berhasil mengembangkan tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Paper yang ia buat dimuat di jurnal Measurement Science and Technology. Artikel tersebut menjadi paper yang paling banyak diakses di penerbitan online oleh Institute of Physics (London). Teknologi ini baru dipatenkan tahun 2003.

Puncak keberhasilan karya risetnya adalah saat ia berhasil menyembuhkan kakaknya yang terdiagnosa kanker payudara stadium IV. Kanker ini berarti nyawa kakaknya sudah diambang batas. Untuk menyelamatkan kakaknya itu, ia menggunakan Breast Electro Capacitive Cancer Threatment (Breast-ECCT) temuannya yang dipasang di dada kakaknya 24 jam sehari selama 2 bulan. Efek samping alat itu langsung terasa di beberapa minggu pertama pemakaian alat itu. Namun efek samping tidak sampai menyiksa pasiennya. Hanya rasa gerah yang berlebih dan keringat yang berlendir. Keringat, feses, dan urine mengeluarkan bau yang menyengat. Bau ini disebabkan karena sekresi dan pembuangan sel-sel kanker yang telah mati. Setelah sebulan berlalu, kakaknya kembali ke dokter untuk pemeriksaan. Begitu terkejutnya dokter tersebut. Hasil diagnosis menyebutkan ia negatif kanker. Dua bulan kemudian sang kakak kembali ke dokter, dan ia divonis telah bebas total dari kanker payudaranya itu. Namun entah mengapa, menurut berita, sang dokter tidak merasa pernah menangani pasien ini, sebab dikatakannya pasien yang ia tangani tidak pernah bisa sembuh total tanpa kemoterapi. Entah ini benar, ataukah sang dokter tidak bisa menerima kenyataan pasien bisa sembuh tanpa bantuan kemoterapi darinya yang sekali tindakan pasien harus merogoh kocek 20juta (baca artikel : Suwarni, Survivor Kanker Payudara).

Sejak saat itu Warsito sering menerima pesanan alat penyembuh kanker ini. Saking banyaknya pesanan, terkadang ia dan karyawannya terpaksa lembur di kantor untuk memenuhi kebutuhan orang-orang itu. Alat tersebut harus di-customize untuk tiap orang, karena tiap orang memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda-beda. Harga yang dipatok Warsito pun terbilang murah jika dibandingkan dengan efek kesembuhannya, yaitu 1 juta. Murahnya harga ini juga disebabkan karena alat ini masih tergolong aplikasi riset. Ada kemungkinan harga berubah, “Tapi masih tetap terjangkau tentunya,” kata Warsito.

Kanker yang berhasil disembuhkan bukan hanya kanker payudara saja. Ia berhasil menyembuhkan kanker otak kecil (Cerebellum) yang diderita pemuda berusia 21 tahun. Saat datang kepadanya, keadaan pemuda itu sangat mengenaskan. Ia hanya bisa berbaring tanpa berbuat apa-apa. Bahkan makan dan minum pun tidak bisa. Ia kemudian dipakaikan alat Brain Electro Capacitive Cancer Threatment (Brain-ECCT). Sama dengan pasien sebelumnya, hari-hari pertama efek samping Brain-ECCT terasa, selain urine dan keringat dengan aroma yang menusuk, ia juga mengalami peningkatan emosional. Namun dalam beberapa minggu ke depan, orang itu sudah bisa tersenyum dan menggerakkan sebagian anggota badannya. Dua bulan kemudian orang itu sudah bebas melakukan apa saja yang ia inginkan dan dnyatakan sembuh total dari kanker yang membebani otaknya.

Peminat dari alat ini tidak terbatas dari kalangan penderita kanker berlokasi di Indonesia saja. Dunia pun mengenalnya. King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) yang terletak di Jeddah pun memesan alat ini. Seolah tak mau ketinggalan, sebuah rumah sakit besar di India sudah memesan alat terapi kanker payudara ini dan melakukan uji coba di sana. “Ya, baru beberapa hari lalu kami melakukan clinical test di India,” jelasnya.
Kedepannya Warsito berencana untuk men-generalisasi penemuannya, yaitu membuat alat penghancur segala jenis kanker dengan metode gelombang listrik statis. Jika penemuannya ini berhasil, bisa dibayangkan berapa juta potensi penderita kanker bisa diselamatkan oleh orang bernama Warsito ini.

Dari sini kita bisa lihat bahwa Indonesia sungguh memiliki banyak insan berpotensi, namun sayangnya banyak yang suka berkarir dan bekerja di luar negeri karena menjanjikan dan memiliki sarana dan prasarana yang lebih lengkap. Beruntung masih ada orang seperti Warsito yang memilih kembali ke tanah air dan mengembangkan penelitiannya di perusahaan yang dibangunnya. Ia telah mendapat berbagai penghargaan terkait dengan prestasinya sebagai researcher antara lain penghargaan rintisan teknologi industri dari kemenperi; penghargaan inovator teknologi dari kemenristek; hingga penghargaan Achmad Bakrie bidang teknologi tahun 2009.

Sekarang giliran kita. Bisakah kita menjadi scientist dan researcher yang dengan gigih dan tanpa kenal lelah berkontribusi dalam membangun bangsa? Hanya diri masing-masing yang bisa mejawabnya.

Sumber :
http://www.jpnn.com/read/2011/12/30/112676/Warsito-P.-Taruno,-Ilmuwan-Pencipta-Alat-Pembasmi-Kanker-Payudara-dan-Otak-
http://arsipiptek.blogspot.com/2011/12/ecct-sudah-diuji-ke-semua-jenis-kanker.html
http://www.jpnn.com/read/2012/01/02/112895/Suwarni,-Survivor-Kanker-Payudara-yang-Sembuh-Total-berkat-Alat-Ciptaan-sang-Adik-
http://www.tech4imaging.com/electrical-capacitance-volume-tomography-system
http://politikana.com/baca/2012/01/13/indonesia-bisa-asal-poli-tikus-diam.html

Pendekar Viking ke-13

ibnu fadlan
Sudah lama saya ingin menulis mengenai Ibnu Fadlan, Pendekar Viking ke-13. Ng, memang ada yah hubungan dinasti islam dengan Viking yang melegenda? Saya pun tidak tau hingga membacanya di Republika. Ceritanya begini.

Tahun 921 M, Ibnu Fadlan diutus oleh Khalifah al-Muqtadir, penguasa Dinasi Abbasiyah di Baghdad, untuk pergi ke kerajaan Bulghar (cikal bakal dari Bulgaria) di hulu sungai Volga di Kazan, wilayah Tatarstan saat ini. Kita semua tahu bahwa di atas sungai ini berdiri sebuah kota yang dinamai Volgograd, atau kota Volga. Sungai ini sangat bersejarah karena menjadi bukti bisu pertempuran brutal dan vital dalam perang dunia 2. Ya, kota di sungai ini dahulu disebut Stalingrad, atau kota Stalin yang sangat dipertahankan mati-matian oleh tentara merah atas instruksi Presiden Rusia saat itu, Joseph Stalin yang bernama asli Iosef Vissarionovich Jugashvili.

Kembali ke petualangan Ibnu Fadlan, di padang rumput antara Laut Aral dan Laut Kaspia atau wilayah Inner Asia, Ibnu Fadlan berjumpa dengan peradaban kulit putih pra-Kristen yang diantaranya diyakini sebagai orang-orang Viking dari Skandinavia yang mengembara jauh ke timur. Orang Arab ketika itu menyebut bangsa kulit putih berambut pirang ras Jermania dari wilayah utara sebagai orang-orang Russiyah atau Rus. Fakta ini menimbulkan kontroversi mengenai keterlibatan orang-orang Viking dalam pembentukan Rusia.

Kitab yang berisi catatan perjalanannya sekaligus laporan untuk Khalifah al-Muqtadir telah membantu para ahli sejarah memahami kondisi masyarakat proto-Rusia saat itu. Ahli sejarah Rusia dari Universitas Minessota, Thomas S Noonan, mengakui bahwa Ibnu Fadlan adalah sumber sejarah unik karena dia menyaksikan sendiri adat istiadat bangsa Rus dan menceritakan segalanya secara detail.
“Dia menceritakan bagaimana Karavan bepergian. Dia juga menulis flora dan fauna sepanjang perjalanan. Dia menunjukkan pada kita bagaimana perdagangan berlangsung. Tidak ada sumber seperti itu,” tulis Noonan.

Mata uang dirham (perak) dicari oleh orang-orang Viking sampai perlu mengembara jauh ke timur untuk berdagang dengan bangsa Arab. Bangsa Rus biasanya menjual berbagai macam kulit binatang, ternak, kulit pohon birch, biji pohon ek, lilin, baju besi, dan pedang. Di banyak situs-situs peninggalan Viking di Skandinavia, terutama Swedia, ditemukan ribuah koin dirham dinasti Abbsiyah yang dicetak di Baghdad, Kairo, Damaskus, Isfahan, dan Tashkent. Menurut Noonan koin dirham itulah yang telah menyokong era Viking, masa keemasan mereka dalam menguasai pantai-pantai Eropa Utara selama abad ke-8 sampai abad 11 M. Beberapa bahasa Arab juga diserap ke dalam bahasa Skandinavia seperti kaffe, arsenal, kattun, alkove, sofa, dan kalvatre (aspal pelapis kapal).

Ibnu Fadlan mencatat bahwa perempuan Rus memakai cakram dari emas atau perak di dadanya yang dikalungkan dengan tali di leher sebagai penanda kekayaan. Bila suaminya punya 10 ribu dirham, sang istri akan memakai satu cakram. Jika kekayaan suaminya mencapai 20 ribu dirham, istri memakai 2 cakram, dan seterusnya berlaku kelipatan.

Laki-laki Rus biasanya memiliki budak perempuan yang selalu menemani dan melayani ke mana pun dia pergi. Ia mendeskripsikan Rus sebagai bangsa yang memiliki fisik paling sempurna. Ibnu Fadlan menulis, “Saya tidak pernah melihat fisik yang lebih sempurna daripada mereka, mereka tinggi seperti pohon palm, warna kulit cerah dan kemerahan. Mereka memakai jubah yang menutupi separuh badan dan satu tangan tidak tertutupi kain. Setiap laki-laki membawa kapak, pedang dan belati. Pedang mereka bergaya Franka yang bilahnya besar dan bergerigi.”

Namun dibalik itu Ibnu Fadlan juga menyebut bangsa Rus sebagai bangsa yang jorok. “Mereka adalah yang terjorok di antara semua makhluk. Mereka tidak bersuci setelah buang air kecil dan tidak cuci tangan setelah makan.” Ibnu Fadlan juga menulis “Mereka sangat vulgar dan terbelakang (untuk urusan kebersihan).” Ia mencontohkan, mereka menggunakan baskom untuk mencuci tangan, padahal mereka juga memakai baskom tersebut untuk berkumur, meludah, membersihkan hidung bahkan membuang ingus. Kemudian mereka bergantian dengan teman mereka untuk memakai baskom tanpa mengganti airnya dan menambah kotor baskom tersebut.

Ibnu Fadlan juga menceritakan mengenai budak perempuan dan keterikatannya dengan tuannya. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana pemakaman salah satu kepala suku mereka yang melibatkan pengorbanan manusia dan kremasi. Budak perempuannya akan mengajukan diri untuk menemani tuannya ke Valhalla (Surga). Ibnu Fadlan mengakhiri percakapannya dengan pria Rus setelah mereka mengejek, “Orang Arab benar-benar bodoh. Kalian mengubur orang yang kalian cintai dan hormati agar dimakan rayap dan cacing di dalam tanah. Sedangkan kami membakar mereka yang mati dengan api sehingga bisa cepat masuk ke Surga.”

Keakuratan catatan Ibnu Fadlan dimanfaatkan oleh Michael Crichton untuk menyusun novel Eaters of the Dead tahun 1976. Novel ini kemudian dijadikan film oleh Hollywood dengan judul “13th Warrior” yang menceritakan kisah Ibnu Fadlan bepergian ke wilayah Nordik bersama 12 pendekar Viking untuk menumpas kaum kanibal. Tentu saja novel tersebut fiksi belaka karena Ibnu Fadlan tidak pernah pergi ke Skandinavia.

Sumber :
Republika, 18 Januari 2012
http://www.library.cornell.edu/colldev/mideast/montgo1.pdf
http://las284jose.wordpress.com/2008/03/12/ibn-fadlan-and-the-rusiyyah/

Kereta Nenek Moyang

Sudah seminggu lebih kira-kira Adikku magang di kampus, menjadi fasilitator antara mahasiswa dengan dekanat. Kegiatannya sibuk dan padat, sehingga mengharuskan ia bangun pagi-pagi sekali sehingga bisa sampai kampus tepat pada waktunya. Sering saya harus mengantarnya sampai ke stasiun Tebet agar ia tidak tertinggal kereta jam 6. Kalau bisa sih dapet KRL ekonomi karena harga tiket yang terjangkau sehingga bisa menghemat uang dan menabung. Maklumlah kan masih mahasiswa. Kalau kebetulan saya ke depok (biasanya hari sabtu), saya mengantar adik saya sampai stasiun UI, bukan cuma sampai Tebet.

Nah hari ini kebetulan saya ada urusan di Depok, jadi saya antarlah adik saya dari klender hingga depok. Di tengah perjalanan itu, secara tidak sengaja kami berbincang mengenai teknologi kereta saat ini. Ia bercerita bahwa pernah ada seorang mahasiswa Jepang kuliah di UI, di sastra Jepang lebih tepatnya. Suatu ketika ia diajak teman adikku ke rumahnya. Mereka naik KRL ekonomi AC. Begitu terkejutnya mahasiswa Jepang tersebut begitu naik Kereta itu. Ia berkata dalam bahasa Jepang yang kira-kira artinya begini, “Hahh??? Ini kan kereta yang pernah kulihat di foto kakekku waktu kakekku masih muda!!!!”. Entah sengaja atau tidak sengaja ia berkata demikian, namun tetap saja membuat teman adikku merasa malu. Ia langsung menulis di Facebook, dan banyak yang menanggapinya, ada yang kesal, ada yang realistis, dan sebagainya.

Bagiku, ini merupakan kejadian yang cukup memalukan, walaupun harus kuakui bahwa perkataannya itu benar. Indonesia sebenarnya sudah bisa membuat kereta sendiri, tapi kenapa kita masih “impor” dari jepang? Sebenarnya disebut impor juga kurang tepat, sebab kita tidak membeli, tapi diberi secara cuma-cuma, kita “hanya” menanggung biaya transportnya saja. Nah kembali ke masalah kenapa masih impor mungkin beberapa hal ini bisa menjadi pertimbangan,

  1. Cost. Biaya untuk mengembangkan sendiri, baik dari sisi waktu dan duit, pasti jauh lebih tinggi.
  2. Kehandalan. Kereta kita kadang suka mogok sendiri, dan sparepartnya susah. dibanding dengan Jepang yang sparepartnya mudah dan terbukti handal karena sudah dipakai bertahun-tahun jadi jarang ada yang rusak.

Mungkin dalam jangka pendek impor ini bisa jadi solusi, namun dalam jangka panjang ini sangat merugikan. Kita kehilangan banyak hal, antara lain,

  1. Kita akan jadi bangsa pengimpor. Kita tidak akan bisa mengembangkan sendiri dan kreativitas mati.
  2. Kita tidak akan bisa ekspor kereta. Baik kereta utuh, maupun sparepartnya saja.
  3. Teknologi kita akan terus tertinggal.

Bagi orang Jepang tersebut, mungkin kereta tersebut merupakan “kereta impian”, karena bisa merasakan kereta yang dinaiki oleh kakeknya dulu. Entah bagi dia itu baik atau buruk, dia sendiri yang tau. Tapi dari sini saya juga bisa menyimpulkan bahwa dari sisi teknologi, kita sudah tertinggal 2 generasi dari Jepang (2 generasi loh, bukan 2 tahun atau 2 dasawarsa). Sampai kapan kita akan terus tertinggal? Hanya kita yang tau.

Sebagai tambahan, kita tidak bisa hanya menyalahkan PT KAI. Karena mereka sudah berusaha untuk menyiapkan transportasi seterjangkau mungkin, walaupun bagi kita itu termasuk mahal. Dalam kesempatan itu pula adik saya mengeluh mengenai KRL ekonomi. Adikku khawatir sekali KRL ekonomi akan dihapus, yang menyebabkan ia harus menyisihkan uang lebih banyak agar bisa naik Commuter Line yang harganya 4 kali lipat dari KRL ekonomi. Kata adikku harga tiket Commuter Line Jakarta-Depok adalah 6000, sedangkan KRL ekonomi biasa hanya 1500. Beda jauh bukan?

Ya benar kata adikku, sebagai seorang mahasiswa yang belum berpenghasilan cukup tentu keberadaan KRL Ekonomi sangat membantu. Namun jangan dilupakan bahwa operasional kereta termasuk tinggi. Jika kita naik angkutan umum jalan seperti bus maupun mikrolet, pasti biaya yang kita keluarkan sama atau lebih dari naik Commuter Line Jakarta-Depok. Jadi sebenarnya untuk jarak jauh, Commuter Line sangat membantu dengan biaya yang optimal. Saya tidak bilang terjangkau karena tiap orang berbeda-beda. Namun dari sisi optimalisasi biaya, secara objektif saya katakan ya. Bayangkan dari kantor ke rumah di depok jika menggunakan angkutan jalan raya. Berapa tenaga, biaya, dan waktu habis dibanding naik Commuter Line.

Nah, kalau naik KRL ekonomi, Jakarta-Depok hanya 1500, tentu sangat besar jurang pemisahnya dengan angkutan jalan raya. Harga itu bukan harga balik modal, apalagi untung. Harga itu adalah harga subsidi. Subsidi dari keuntungan Commuter Line walaupun sedikit, kereta eksekutif jarak jauh, dan dari pemerintah. Yang terakhir ini bisa dipastikan selalu bermasalah, sebab pemerintah sendiri juga tidak mampu menutupi seluruh biaya kereta ekonomi dan sering kali (atau selalu) subsidi datang belakangan dan sangat terlambat. Ibarat orang kerja keras sampe meninggal karena kelaparan, baru gaji turun. Jadi orang kalau Anda orang berkecukupan (ingat! berkecukupan, bukan kaya, sebab berkecukupan bukan berarti kaya!!), naiklah kereta yang sesuai, agar bisa menyubsidi orang yang tidak mampu.

Kembali ke masalah ketertinggalan teknologi, intinya bagaimana kereta bisa mengembangkan diri dengan baik dan berinovasi jika hidup sehari-harinya saja (biaya operasional) masih kekurangan. Kita harus refleksi diri juga, bagaimana cara membantu PT KAI berkembang. Caranya? ya belilah tiket dengan jujur. Berikan kritik dan saran agar terus membangun dan berinovasi. Jangan suka numpang gratis, apalagi sampai naik ke atap gerbong. Perlu diketahui dan diingat bahwa tiap gerbong ada batas toleransi beban yang bisa diangkut. Jika melebihi batas tersebut sudah bisa dipastikan gerbong cepat rusak, pegas kereta tidak berjalan, dan sebagainya. Sudah tidak bayar, bikin rusak pula. Inilah yang harus direfleksi lagi. Dari sisi PT. KAI harus introspeksi, dari sisi kita pun harus sadar diri.